Membangun Masyarakat Berbudaya Damai

Dunia tempat kita tinggal dapat terhubung secara cepat melalui teknologi informasi, seperti internet, telepon selular. Planet bumi yang secara fisik sangat luas saat ini seolah-olah menjadi sebuah Kampung Global (Global Village) yang datar. Perkembangan ini begitu cepat dan telah berdampak pada pola kehidupan umat manusia. Berbagai sektor kehidupan lain semakin berkembang dari sektor ekonomi, perdagangan, sosial hingga politik dan ideologi. Apabila manajamen perubahan ini tidak tepat, maka akan sangat berdampak terhadap kehidupan dan memungkinkan terjadinya bencana kemanusiaan.

Kini, ungkapan siapa kuat dia menang seperti yang terjadi dalam masyarakat monolog di era penjajahan dulu tidak sepenuhnya benar, meskipun di beberapa belahan dunia masih berlaku. Memang masih kita akui bahwa sistem hukum internasional masih banyak yang tidak adil. Karena konsepnya memang bukan mencari aturan yang “adil untuk semua pihak”, tetapi lebih merupakan setuju atau tidak setuju dengan pengajuan aturan yang tersedia. Misalnya, tujuan keberadaan PBB adalah untuk mencegah terjadinya perang (armed conflict).

Dalam Piagam PBB pasal 2 disebutkan mengenai larangan “menyerang negara lain” dan keharusan setiap anggota PBB untuk menyelesaikan konflik secara damai. Namun di pasal lainnya mengandung ketentuan diperbolehkannya melakukan “serangan bersenjata” ke negara lain (antara lain pasal 51 mengenai “self-defence” dan BAB VII/pasal 39-43 mengenai “enforcement action” melalui Dewan Keamanan). Customary law, sebagai salah satu sumber hukum internasional yang diakuipun membolehkan penyerangan bersenjata, di antaranya dengan alasan “humanitarian intervention” (intervensi karena alasan kemanusiaan), “reprisals” (serangan balasan kalau diserang terlebih dahulu), “hot pursuit” (pengejaran buronan/musuh yang melewati batas teritori negara) dan “annexation of territory” (penguasaan wilayah oleh negara lain). Dapat kita pahami pula bahwa pengecualian tersebutlah yang selama ini ditafsirkan dan digunakan secara sepihak oleh berbagai negara untuk melegalisasikan serangan bersenjata (perang) ke negara lain.

Membangun Masyarakat Berbudaya Damai

cropped-1483339958626.jpg

Budaya damai dapat dimaknai sebagai pendekatan integral untuk mencegah kekerasan dan konflik berdarah sebagai sebuah upaya menghilangkan budaya kekerasan. Budaya ini didasarkan pada kesadaran dan pemahaman akan keanekaragaman dan perbedaan, pendidikan perdamaian, promosi keberlanjutan pembangunan ekonomi dan sosial, penghargaan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, partisipasi demokrasi, toleransi dan kebebasan arus informasi dan penghentian kegiatan militeristik yang tidak dapat dibenarkan secara hukum dan alasan kemanusiaan apapun.

UNESCO dalam Declaration of a Culture of Peace menyebutkan bahwa budaya damai adalah sikap, tindakan, tradisi, dan model perilaku dan cara hidup yang didasarkan pada:

  • Menghargai kehidupan, mengakhiri kekerasan dan mengedepankan tindakan anti kekerasan melalui pendidikan, dialog, dan kerjasama.
  • Penghargaan penuh terhadap prinsip-prinsip kedaulatan, integrasi wilayah, kemerdekaan politik negara dan ketiadaan intervensi pada persoalan internal sebuah negara yang berhubungan dengan Piagam PBB dan hukum internasional.
  • Penghargaan penuh terhadap dan mengedepankan penghargaan terhadap seluruh hak asasi manusia dan kemerdekaan dasar.
  • Komitmen terhadap penyelesaian konflik secara damai.
  • Upaya untuk menemukan kebutuhan pembangunan dan lingkungan tidak hanya saat ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
  • Menghargai dan mengedepankan hak-hak pembangunan.
  • Menghargai dan mengedepankan kesamaan hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan.
  • Menghargai dan mengedepankan hak-hak setiap orang untuk merdeka berekspresi, berpendapat dan mendapatkan informasi.
  • Mengikuti prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerjasama, penghargaan terhadap kemajemukan, perbedaan budaya, dialog dan pengertian pada setiap tingkatan masyarakat dan bangsa.

Bagi saya, sepertinya sulit untuk menciptakan perdamaian tanpa keadilan. Seandainya perdamaian dapat terwujud tanpa memiliki pondasi keadilan, maka perdamaian itu tidak akan kekal dan bertahan lama. Maka dari itu, tanpa jalinan keadilan, tidak dapat diharapkan perdamaian yang hakiki akan berlangsung.

Mengkaji tentang perdamaian dan budaya damai akan mengingatkan kita pada kompleksitas persoalan konflik yang kian rutin terjadi. Perwujudan kondisi damai dan adil tidak dapat dilepaskan dari pola pikir, mentalitas dan spiritualitas manusia. Ketiga hal tersebut merupakan hal utama dalam mewujudkan masyarakat beragam yang minim konflik, toleran dan pro-perdamaian. Hanya dengan tegaknya keadilan orang boleh berharap bahwa sebuah wajah dunia yang ramah akan menjadi kenyataan.

Kita harus mengedepankan cara-cara persuasif yang saling menguntungkan sebagai konsekuesi dari hidup dalam sebuah masyarakat dialog. Kita tidak lagi hidup dalam zaman yang menempatkan kekerasan sebagai jalan keluar dari perbedaan yang ada tetapi dengan dialog. Jika kekerasan yang menjadi alat penyelesaian masalah, maka konflik akan terus terjadi karena sampai kapanpun kita akan bertemu dengan perbedaan. Dengan demikian, di sebuah masyarakat multikultural, perdamaian adalah budaya. Bukan lagi budaya kekerasan.

Dalam Al Quran dengan jelas disebutkan bahwa Allah tidak menciptakan manusia untuk saling menyakiti, apalagi membunuh. Perbedaan ras, suku, dan bangsa dimaksudkan Allah Swt agar manusia saling mengenal, bukan membenci dan bermusuhan (QS al-Hujurat [49]: 13). Oleh karena itu, umat Islam di mana pun mereka berada harus berusaha mewujudkan perdamaian dan membangun semangat keislaman yang moderat dan progresif, tidak ashobiyah yang hanya mementingkan kelompoknya agar menjadi pionir dalam mengampanyekan kedamaian dan perdamaian.

Pertanyaan besar saya adalah bagaimana kita, bangsa Indonesia, masyarakat Indonesia mampu berperan dan  mampu mewujudkan perdamaian dan menghapuskan ketidakadilan?

Tentunya, jawaban dari pertanyaan ini perlu dirumuskan secara serius karena tidak mudah dan apapun kebaikan yang kita dapat lakukan, maka segera lakukan jangan ditunda-tunda. Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa budaya damai bukan lagi sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan bagi kita, sebab hanya ada dua alternatif, berdamai dan membangun masyarakat dan generasi mendatang yang lebih baik atau berkonflik dan menciptakan masyarakat yang menderita dan generasi mendatang tanpa masa depan.