KATA SIAPA DAMAI ITU SUSAH? HAA???

Istimewa

 Sering sekali kita mendengar kata ‘Damai’, namun pernahkah kita ketahui bahwa menjalin perdamaian butuh keikhlasan dan niat yang nyata dari masing-masing diri. Seperti berdamai dengan mantan pacar misalnya, walau ada rasa tidak enak paling tidak kita juga harus berdamai dan bukan menganggapnya musuh. Contoh lain yang akhir-akhir ini aku temui. Ketika ada hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik malah berbalik arah. Hal sepele saja juga dapat menimbulkan masalah jika kita menganggapnya masalah. Kalau sebuah permasalahan diselesaikan dengan baik, maka akan ada perdamaian yang indah pula.

Dalam menciptakan situasi damai itu tidaklah susah kok. Justru yang merumitkan adalah diri sendiri yang bisa saja berimbas ke orang lain. Jika saja kita menganggap masalah bukanlah masalah, perdamaian tersebut bisa juga tercipta. Misal, memaafkan kesalahan orang lain tanpa adanya balasan. Perlu kita tahu, seindah-indahnya berlian yang lebih indah adalah perdamaian, Asiik…  Mengapa begitu? Perdamaian itu tak ternilai, jika saja kita tahu letak atau posisi untuk mewujudkan perdamaian tersebut.

Seperti halnya pencarian #DutaDamaiDuniaMaya2016 yang Lalu. Banyak masyarakat berbondong-bondong untuk mengapresiasi bahkan ikut serta dalam penyampaian pesan damai ke khalayak. Kita tahu antusiasme merekalah yang memperkuat bahwa perdamaian itu perlu.

So, susah buat berdamai dengan mantan? *Eeehh

So, susah buat berdamai dengan mereka? Kita adalah sama. Sama yang disatukan lewat cinta. Jangan lupa ya mampir ke rumah kak maya www.bintangberpuisi.com dan jangan lupa pula untuk ambil bagian dalam Duta Damai Dunia Maya 😉

recall the past

Mengenang Ibu Gedong Bagoes Oka

Ibu Gedong Bagoes Oka (81) tokoh pejuang kemanusiaan dan perdamaian dengan gerakan nonkekerasan, meninggal dunia pada hari Kamis (14/11/02) sekitar pukul 04.00 wib di kediaman salah satu putranya, Viraguna Bagoes Oka, di Jalan Brawijaya VIII/2A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia meninggalkan enam orang anak, serta 11 orang cucu. Jenazahnya diterbangkan ke Bali dan disemayamkan di Puri Kawan, Karangasem, sekitar 20 kilometer sebelah timur Ashram Gandhi di Candidasa.

Gedong Bagoes Oka

Anggota Utusan Golongan MPR (1999-2002)
Lihat Curriculum Vitae (CV) Gedong Bagoes Oka

Siti Fauzanah
Kemudian upacara Palebon yang sering disebut Ngaben akan diselenggarakan tanggal 23 November 2002, di setra atau pemakaman Karangasem, Bali, dipimpin oleh Pedanda Siwa dan Buddha. Menurut Bengky Bagoes Oka (58), putra sulung almarhumah, pihak keluarga dan pedanda juga memutuskan upacara Palebon itu akan dilakukan langsung dengan layon atau jenazahnya.

Sampai tanggal 22 November setiap malam di Puri Kawan dilakukan upacara Kakawin, pembacaan cerita-cerita Lontar yang diinterpretasikan ke dalam Bahasa Bali. Selain itu dilakukan agnihotra, upacara yang dilakukan Ibu Gedong setiap Matahari terbit dan terbenam semasa hidupnya. Pada tanggal 22 akan dilakukan upacara nyiramang layon atau memandikan jenazah.

Kondisi kesehatan Ibu Gedong menurun drastis sejak kepulangannya dari Swedia, sekitar bulan Maret 2002 lalu dan sempat dirawat di RS Dharmais Jakarta. Sejak itu, pekerja kemanusiaan ini, membatasi berbagai aktivitasnya.

Ibu Gedong dilahirkan tanggal 3 Oktober 1921 dengan nama Ni Wayan Gedong di Karangasem sebagai putri pasangan I Komang Layang dan Ni Komang Pupuh, seorang anggota dewan pembina desa. Berbeda dengan keadaan
perempuan saat itu, Gedong kecil mendapatkan kebebasan dari orang tuanya untuk menjalankan segala keinginannya. Hingga Gedong kecil melanjutkan sekolah dasar atau HIS pada tahun 1927 di Klungkung. Untuk ukuran
perempuan saat itu, jarak tersebut termasuk jauh dari daerah kelahirannya.

Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke PMS di Batavia tahun 1938 dan AMS di Jagjakarta 1936. Saat menempuh pendidikan di AMS itu, ia diberi kebebasan untuk menekuni agama lain, yaitu agama Kristen.

Pemahamannya tentang Kristen dan kelahirannya pada tradisi Hindu menyebabkannya sangat dekat dengan Mahatma Gandhi. Bapak bangsa India tersebut lahir dari tradisi Hindu yang kental dan memahami Kristen dengan baik. Pemahaman tentang dua agama besar tersebut membuatnya sebagai penganut spirit Hindu, yaitu Ahimsa (anti kekerasan) dan satya (kebenaran).

Kepergian Ibu Gedong yang mendadak terasa sangat mengagetkan banyak pihak, termasuk keluarga yang merawatnya selama ini. Kendati ia telah berpulang,
perempuan bertubuh mungil yang selalu tampil sederhana dengan kain kebaya dan sanggul kecil di mana pun, itu akan selalu hidup dalam kenangan banyak orang. Juga semangatnya untuk tetap berdiri tegak dalam situasi kemelut, sambil menyuarakan pesan-pesan Gandhi.

Selama ini orang lebih banyak dikesankan oleh kegesitan dan semangatnya yang luar biasa dalam mendukung berbagai aktivitas kemanusiaan, perdamaian, dan gerakan nonkekerasan.

Dua bulan terakhir ini Ibu Gedong berada di Jakarta karena kondisi kesehatannya memburuk. Tubuhnya semakin rapuh meski semangatnya masih menyala. Ia sempat dirawat di RS Dharmais dan RS Pondok Indah.

Oleh Th Sumartana
SEORANG tokoh yang mengabdikan diri pada perdamaian telah pergi dari antara kita. Kita kehilangan lagi seorang yang tak mengenal lelah mewartakan cara-cara damai untuk menyelesaikan masalah. Tahun-tahun terakhir ini, Ibu Gedong seolah-olah benar-benar terpojok dengan segala macam berita tentang kekerasan, ketidaksabaran dan amuk yang terjadi di seluruh wilayah Tanah Air. Ibu Gedong seperti gelisah, antara bangun dan tidur, antara percaya dan tak percaya, antara putus asa dan berharap. Ia mondar-mandir dan mengajak ngobrol sampai pukul dua pagi.

Mungkin di pusat kesadarannya tak mampu menjawab, seperti orang lain tak bisa menjawabnya, mengapa negeri ini menyukai kekerasan? Apakah kebanyakan orang di negeri ini sudah kehilangan akal sehat, atau sekadar merasa tak punya daya dan spirit yang dibutuhkan untuk keluar dari labirin yang telah mengurungnya sekian lama?

Ibu Gedong berjalan mondar-mandir dari kamar tidur ke kamar makan, di mana kami biasa ngobrol, lalu menelepon seseorang, lalu memanggil untuk ngobrol lagi. Terakhir, ia terbaring lemah di rumah sakit. Mengajak berdoa, apalagi yang bisa diperbuat, kecuali mengumpulkan sisa kekuatan untuk tetap hidup dan membangun kembali harapan. Bukankah berdoa adalah salah satu cara untuk tetap berharap?

Ibu Gedong baru pulang dari perjalanan panjang ke Eropa, terutama di Swedia, untuk berceramah tentang berbagai macam tema, khususnya tentang langkah-langkah perdamaian di Indonesia yang banyak orang dari luar ingin mendengar sendiri tentang apa yang terjadi, dan bagaimana hal itu ditanggapi oleh seorang tokoh perdamaian dari negeri yang penuh kemelut ini. Sepulang dari beberapa negeri di Eropa, ia sempat mampir ke Dian/Interfidei di
Yogyakarta. Meski tampak lelah, ia masih mengajak ngobrol tentang keadaan di Tanah Air. Ia selalu berbicara selang-seling, dengan bahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia. Lebih sering ia berbahasa Belanda. Kami berkumpul di meja makan, sambil makan tahu atau tempe goreng yang tersisa. Tak sadar hari sudah hampir pagi. Pukul dua dini hari, ia masih menunjukkan keyakinannya. Dengan bahasa Belanda kami yang jauh dari sempurna, ia selalu mengoreksi apa yang kami katakan. “Jullie moeten sterkte met vrede”, kira-kira begitu katanya di pagi hari itu. “Kalian musti benar-benar bekerja keras untuk memperjuangkan perdamaian”. Seolah-olah dia ingin menunjukkan bagaimana dia sendiri tak kenal menyerah.

PADA tahun-tahun sebelum 1998, sebelum “masa reformasi”, bersama Romo Mangunwijaya dan
Gus Dur (KH
Abdurrahman Wahid), ketiga tokoh ini sering bertemu di Kantor Interfidei. Berbicara tentang soal rekonsiliasi, atau sekadar bercanda tentang perilaku para elite politik pada masa itu. Pada akhir pembicaraan, ketika sudah saling berpisah, Ibu Gedong selalu, sekali lagi, menegaskan “Di sinilah relevansi pemikiran Mahatma Gandhi. Dengan kekuatan spiritual orang seperti Gandhi, ia berjalan dengan keyakinan yang tak pernah bisa dikalahkan oleh kekuatan yang merusak kemanusiaan. Berapa besarnya kekuatan antikemanusiaan itu. Ia tetap bisa ditundukkan”. Bagi Ibu Gedong, perdamaian dan Gandhi tak pernah bisa dipisahkan. Dan, langkah yang ia jalani adalah dengan mengelola Ashram Gandhi, baik di Bali maupun di tempat lain, untuk mengasuh dan mendidik generasi muda agar menyadari panggilan mereka mencipta perdamaian. Tak banyak orang percaya, tetapi tak sedikit pula yang mendengar pesan-pesan Ibu Gedong.

Ketika bertanya-tanya tentang perkembangan konflik
Maluku,
Aceh, Kalimantan, dan Poso, Ibu Gedong mengernyitkan dahinya. Ia tampak enggan memberi komentar. Atau kemudian ia minta semua yang hadir untuk diam, bermeditasi atau berdoa menurut iman masing-masing. “Kita sekarang ini benar-benar menghadapi masa yang sulit,” katanya.

Pada usianya yang 80 tahun, fisiknya tak memungkinkan lagi untuk menggebrak atau menyuarakan geram. Ibu Gedong tampak renta, fisiknya lemah. Masih, lagi, ia mengatakan dengan setengah berbisik. “Jangan menyerah, kalian mesti kuat untuk memperjuangkan perdamaian. Zaman ini zaman yang penuh ujian. Tak seorang pun dari kalian boleh menyerah. Berbuatlah sesuatu, sekecil apa pun.”

Ibu Gedong adalah tokoh yang mampu menghormati dan menerima perbedaan dalam pandangan agama. Pada saat melakukan doa malam bersama, ia membaca mantra, menyelipkan senandung nyanyian Kristen, melagukan shalawat, dan mengucapkan berbagai kearifan hidup dari berbagai macam agama, Buddha, Konghucu, dan lain-lain. Ia tetap seorang Hindu yang amat taat dan teguh.

Namun, perbedaan agama tidak pernah menjadi alasan untuk tidak menghargai dan menghormati integritas kemanusiaan masing-masing. Ia memimpin upacara membakar dupa. Beberapa belas orang duduk berkeliling mengikuti dengan khusyuk. Doa dipanjatkan menurut keyakinan masing-masing, semoga damai datang ke bumi. Pada upacara keagamaan itu, seolah hendak disimpulkan oleh Ibu Gedong bahwa keyakinan iman dan perbuatan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Beragama yang sebenarnya adalah berbuat baik dengan sebenarnya. Dialog dan diapractice adalah satu. Berbicara dan berkomunikasi dan bekerja sama untuk berbuat baik adalah satu. Dan, itu merupakan esensi agama yang sesungguhnya.

Lalu, ketika ditanyakan pendapatnya tentang peristiwa “bom Bali”, ia terdiam sejenak. Matanya nyalang tak berkedip, tetapi tampak tubuhnya yang renta tak bisa lagi mengekspresikan kegeraman. Dalam bahasa Belanda, ia bergumam: “Wat stommen mensen!” “Betapa terbelakangnya pikiran orang-orang yang melakukan itu!” Ya, bukan hanya kebodohan, tetapi juga kebiadaban.

Ibu Gedong telah tiada, tetapi rohnya tetap ada di antara kita, di antara semua orang yang mengupayakan perdamaian.

Mengapa Anak Muda?

youth_silhouetteKisah tentang generasi muda tak henti-hentinya menjadi bahasan dan perbincangan hangat. Ibarat buku, bab generasi muda menjadi bab paling memikat. apa pasal? ya generasi muda terus di incar secara postur , usia dan masih panjang perjalan hidupnya, itulah yang menarik gejolak asa. di berbagai ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, generasi muda makin memikat, lantaran tuntutan peranya bagi bangsa dan negara. Tentu tak berlebihan , oleh karna memang anak muda sebagai harapan bagi generasi mendatang yang akan menikmati peran bagi bangsa dan negara harapan dan tantangan tampaknya terus berusaha. Ada kebanggaan saat melihat keberhasilan generasi dalam berbagai prestasi. kini tampak banyak generasi muda yang punya kesadaran untuk berdedikasi di masyarakat lewat berbagai bentuk, baik perorangan maupun secara organisasi.

dulu kita bangga dengan tampilnya tokoh-tokoh muda zaman pergerakan seperti SOEKARNO, HATTA, AGUS SALIM, SYARIR, WAHID HASYIM dan masih banyak lainnya. mereka inilah yang menjadi ” energi” kemerdekan bangsa sekaligus pembangunan format bangsa yang berkarakter dan berkepribadian. Tetapi juga ada kemirisan ketika anak muda berada dalam jalan penuh tikungan. Nah, tiba-tiba kini, kita pernah tersentak satu contoh saja saat membaca kisah M. Syarif, anak muda yang dengan kapalnya melakukan bom bunuhdiri di mapolsek cirebon di saat jamaah tengah melakukan shalat jum’at. kok bisa-bisanya, ternyata ini akibat tersihir sebuah kelompok radikal.Ada lagi, anak-anak muda yang terdoktrin untuk tidak mau menghormati bendera merah putih, karna meyakini bisa membawa kesyirikan. ini jelas fakta yang mencemaskan, karna bisa menjadi “benih” radikalisme.

Teror bom yang diakukan anak muda pun kembali mematik pertanyaan, MENGAPA MENGAPA ANAK MUDA. Mengapa anakk muda itu terpikat untuk ikut-ikutan melakukan aksi teror? ya faktanya “pengantin-pengantin” yang dijadikan “tumbal” teroris yang melakukan aksi BOM bunuh dirinya banyak di mainkan oleh anak muda. cobalah kita simah fakta bahwa  SEKITAR 80% DARI 600 TERDUGA TERORIS TERTANGKAP adalah remaja berusia 18-30 tahun. Lagi- lagi data ini membuktikan bahwa anak muda menjadi sasaran perekrutan jihad istana untuk mencederai bangsa sendiri.

Para anak muda itu sebenarnya merupakan korban dari perekrutan dan indoktrinasi konsep jihad yang kebablasan atau salah kaprah. Anak muda yang sedang mencari identitas diri itu, terpikat oleh mentornya tidak dijelaskan makna jihad, syarat-syarat apa yang harus dipenuhi, dan kondisi apa pemerintah jihad itu dilaksanakan. Akhirnya, korbannya justru diri mereka sendiri dan orang lain yang tak berdosa.

aksi teror terus terjadi bahkan dengan langkah pastinya mereka mengkader anakarlton tahun -anak belia untuk tetap dalam lingkaran ideologi terorismenya. Caranya, kader yang ditargetkan para pelaku terorisme tersebut adalah upaya bisa menggaet para anak muda untuk dipengaruhi dan bisa melanjutkan ideologi amoralny.seperti kalau lagi kita melihat pada tragedi ledakan Bom di JW Marriot dan hotel Rits-Carlton tahun 2009,yang ternyata salah satu pelakunya adalah anak muda berusia 18 tahun yang baru saja lulus SMA. Jelas-jelas sudah banyak kelompok radikal tidak akan berhenti regenerasi.

ANAK MUDA DIPILIH KARNA MUDAH DI CUCI OTAKNYA, PARA SUHU RADIKALISME SELALU MEMASUKKAN PEMAHAMAN YANG SUHU RADIKALISME SELALU MEMASUKKAN PEMAHAMAN YANG SALAH KE OTAK ANAK-ANAK MUDA. INI AKAN MENJADI LEBIH MUDA KARNA IMING-IMING YANG DISAMPAIKAN BIASANYA MATI SYAHID, MASUK SURGA, DAN DITEMANI BIDADARI NAN CANTIK

 

KITA SELAKU MASYARAKAT YANG PROGRES KHUSUSNYA PEMUDA PENERUS BANGSA. COBALAH PIKIRKAN APA SEBELUM MELAKUKAN, KARNA TERKADANG APA YANG KITA PIKIRKN BAIK, BELUM TENTU MENGHASILKAN HAL YANG BAIK DAN BERMANFAAT PULA UNTUK BANYAK ORANG.

 

Dimana Ada asap, Pasti Ada API

Bukan hanya Peperangan yang dibumbui oleh awal dari Api kebencian, tetapi coba kita sama-sama berfikir positif. Untuk buat api itu,, sebagai awal terbentuknya asap-asap perdamaian.

jadilah Api pembakar kekerasan, jadilah Api pengobat peperangan, jadilah Api pemberi semangat. agar terbentuk asap-asap perdamaian

kita pasti tau hampir tidak ada orang yang menentang perdamaian  Perdamaian dunia merupakan tujuan utama dari kemanusiaan.  Beberapa kelompok, berpandangan berbeda tentang apakah damai itu?, bagaimana mencapai kedamaian?, dan apakah perdamaian benar-benar mungkin terjadi?.

JAWABANYA

PASTI KARNA KITA MASYARAKAT DAMAI

Imam Masjidil Haram Ajak Masyarakat Hidup Damai

Imam Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Syekh Saleh bin Abdullah bin Hamid, mengajak, masyarakat hidup damai dan harmonis. Hal tesebut dia sampaikan dalam sebuah acara yang diselenggarakan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam di Dafna, Qatar, beberapa waktu lalu.

“Koeksistensi sangat penting hari ini. Islam memberikan fokus khusus pada itu, dan sangat jelas ditampilkan dalam kehidupan sosial di Kota Suci Madinah selama era Nabi Muhammad SAW dan juga selama masa Khulafaur Rasyidin,” ujarnya seperti dikutip dari The Peninsula Qatar.

Syekh Saleh mengatakan, Islam berfokus pada koeksistensi dengan pengampunan sebagai elemen dasar. Masyarakat Madina selama zaman Nabi Muhammad SAW baik itu Muslim, Yahudi, Kristen hidup bersama. Koeksistensi hidup bersama-sama dengan situasi dan berbeda tujuan.

“Ini tidak berarti mengabaikan orang lain, tetapi untuk berbagi kehidupan antara orang-orang. Koeksistensi harus datang dari dalam sehingga hubungan positif didirikan antara orang-orang dalam bermasyarakat,” kata dia.

Dia menyebut, dalam Alquran dan hadis, secara terang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda agar dapat membentuk masyarakat yang terintegrasi. “Perbedaan dapat ditangani melalui ideologi keterbukaan karena pikiran yang sempit tidak bisa menghadirkan opsi apapun. Memahami orang lain tidak berarti harus yakin dengan pendapat lain, tapi menghormati pandangan lain tesebut,” ujarnya.

Keberadaan sekte, mazhab pemikiran, orang, dan suku adalah bawaan sejak lahir dengan sifat manusia. Dia menyebut, keeksistensian dapat dicapai hanya melalui prinsip persaudaraan, reformasi diri, kesetaraan, cinta, kasih dan kesabaran. Negara-negara Teluk misalnya, telah menunjukkan contoh kerja sama ideal dan harmonis meski terjadi beberapa konflik di wilayah tersebut.

Mereka telah tinggal bersama-sama mendukung satu sama lain keamanan dan stabilitas di sana. “Kita harus hidup berdampingan sebagai individu, keluarga, masyarakat dan negara untuk kepentingan semua manusia sebelum kehilangan segalanya,” ujar Syekh Saleh.

3 Cara Menciptakan Kerukunan dalam Hidup Bermasyarakat

  • Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi tidak terlepas dari berbagai macam konflik pertikaian. Pertikaian demi pertikaian di antara umat manusia terjadi karena disebabkan oleh banyak faktor kepentingan, kepentingan demi kepentingan tersebut membuat manusia menjadi satu-satunya makhluk di muka bumi ini yang hidup paling tidak harmonis.Alam semesta beserta isinya telah diciptakan oleh Tuhan dengan sedemikian harmonisnya. Miliaran bintang dan planet bergerak teratur sesuai dengan jalurnya. Tumbuhan tahu kapan harus merontokkan daunnya untuk menyesuaikan musim, dan hewan buas tidak memangsa buruannya melebihi yang dia perlukan. Hal-hal tersebut memperlihatkan bahwa betapa Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan ini dengan keteraturan.

    Manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Tuhan. Sebagai makhluk terakhir yang diciptakan, manusia dikaruniai oleh Tuhan dengan begitu sangat istimewa. Ironisnya, meskipun dengan segala karunia yang telah Tuhan berikan tidak serta merta membuat manusia memahami arti tujuan penciptannya. Tuhan mengharapkan manusia dengan segala keunggulannya dapat menjadi penguasa bumi ini, sebagai penjaga dan pelestari apa yang telah Dia ciptakan. Segala hal telah diletakkan di hadapan kaki manusia agar supaya manusia selalu ingat bahwa Tuhan sangat mengasihinya dan diharapkan manusia dapat secara arif serta bijaksana memperlakukannya.

    Secuil kisah di atas hendaknya boleh kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai manusia modern kita tidak dapat hidup secara individual, kita diwajibkan hidup dalam komunitas masyarakat dan berinteraksi satu sama lain secara rukun dan damai. Jika seluruh alam semesta saja mampu hidup secara harmonis seharusnya manusia juga bisa melakukannya. Namun kenyataannya tidak berkata demikian, manusia cenderung memiliki pola pikirnya sendiri, manusia kerapkali bersitegang satu sama lain dengan berbagai macam latar belakang permasalahan, justru dengan keunggulan yang dimilikinyalah manusia kesulitan untuk menerapkan hidup rukun berdampingan secara harmonis.

    Begitu sulitkah bagi manusia untuk bisa mengasihi sesamanya? Sesungguhnya tidak! Pertikaian di antara manusia terjadi karena manusia belum menyadari bahwa musuh sesungguhnya bukan siapa yang ada di hadapannya tetapi musuh sesungguhnya adalah dirinya sendiri. Manusia dengan akal budi serta pikirannya telah sejak lama berusaha menggali kesadaran mereka, memahami tujuan dari penciptaan dirinya. Sebagai makhluk sosial manusia sangat tergantung terhadap satu sama lain, manusia tidak akan bisa bertahan hidup di bumi ini jika mereka hidup secara individual. Seiring proses berjalannya waktu yang membantu manusia menyadari bahwa pertikaian yang terjadi di antara mereka tidak dapat mendatangkan kebahagiaan dan sukacita melainkan mendatangkan dukacita serta kepedihan.

    Kerendahan hati, toleransi serta kesabaran dalam hidup bermasyarakat mutlak diperlukan. Tidak semua orang yang dilahirkan memiliki karakter yang sama, jika sikap kerendahan hati, tolerensi dan kesabaran tidak kita bina sangatlah sulit untuk menciptakan kerukunan hidup dalam bermasyarakat.

    Kerukunan dalam kehidupan dapat mencakup 4 hal, yaitu: Kerukunan dalam rumah tangga, kerukunan dalam beragama, kerukunan dalam mayarakat, dan kerukunan dalam berbudaya. Indonesia yang sangat luas ini terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama serta sangat rawan akan terjadinya konflik pertikaian jika seandainya saja setiap pribadi tidak mau saling bertoleransi. Oleh karena itu marilah dimulai setiap dari kita bersedia berkomitmen untuk mau mengusahakan kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai. Ciptakanlah tri kerukunan umat beragama, yang mencakup: Kerukunan internal umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Jika kerukunan di antara umat beragama dapat terjalin dengan baik tidak hanya masyarakat yang harmonis tapi negara juga akan aman.

  • Kerukunan dapat dimulai di dalam keluarga kita masing-masing

    Ciptakanlah tolerensi di antara sesama anggota keluarga karena jika di dalam setiap keluarga tolerensi dapat terjalin dengan baik, imbasnya dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat.

  • Mengupayakan kerukunan dalam bermasyarakat adalah tanggung jawab setiap orang

    Nilai-nilai serta norma-norma beretika dalam bermasyarakat perlu ditanamkan sejak seseorang masih kecil. Saling menghormati, menghindari menggunakan perkataan kasar yang dapat menyinggung perasaan orang lain adalah salah satu cara yang dapat kita lakukan agar kita bisa bermasyarakat dengan baik.

  • Kerukunan dalam berbudaya

    Leluhur bangsa Indonesia adalah orang-orang yang arif serta bijaksana. Budaya serta tradisi dibuat agar kehidupan dalam masayarakt semakin lengkap. Karena sifat kemajemukan budaya bangsa Indonesia yang beraneka ragam, maka kerukunan dalam berbudaya juga perlu diperhatikan. Lain ladang lain belalang, lain daerah lain pula budayanya. Oleh karena itu jika kita bepergian ke suatu tempat yang memiliki budaya yang sangat berbeda dengan budaya dari mana kita berasal, maka sudah kewajiban kita dengan senang hati untuk menghormati serta mengikuti budaya setempat tersebut.

    Indonesia adalah negara yang memiliki keunikan tersendiri di dalam membangun, memelihara, membina, mempertahankan, serta memberdayakan kerukunan bermasyarakat. Upaya-upaya yang berkaitan dengan kegiatan kerukunan masyarakat tersebut merupakan sebuah proses tahap demi tahap yang harus dilalui secara terus menerus agar perwujudan kerukuanan bermasyarakat benar-benar dapat tercapai. Di samping itu, kerukunan juga merupakan upaya terus-menerus tanpa henti dan hasilnya tidak diperoleh secara instan.

Membangun Masyarakat Berbudaya Damai

Dunia tempat kita tinggal dapat terhubung secara cepat melalui teknologi informasi, seperti internet, telepon selular. Planet bumi yang secara fisik sangat luas saat ini seolah-olah menjadi sebuah Kampung Global (Global Village) yang datar. Perkembangan ini begitu cepat dan telah berdampak pada pola kehidupan umat manusia. Berbagai sektor kehidupan lain semakin berkembang dari sektor ekonomi, perdagangan, sosial hingga politik dan ideologi. Apabila manajamen perubahan ini tidak tepat, maka akan sangat berdampak terhadap kehidupan dan memungkinkan terjadinya bencana kemanusiaan.

Kini, ungkapan siapa kuat dia menang seperti yang terjadi dalam masyarakat monolog di era penjajahan dulu tidak sepenuhnya benar, meskipun di beberapa belahan dunia masih berlaku. Memang masih kita akui bahwa sistem hukum internasional masih banyak yang tidak adil. Karena konsepnya memang bukan mencari aturan yang “adil untuk semua pihak”, tetapi lebih merupakan setuju atau tidak setuju dengan pengajuan aturan yang tersedia. Misalnya, tujuan keberadaan PBB adalah untuk mencegah terjadinya perang (armed conflict).

Dalam Piagam PBB pasal 2 disebutkan mengenai larangan “menyerang negara lain” dan keharusan setiap anggota PBB untuk menyelesaikan konflik secara damai. Namun di pasal lainnya mengandung ketentuan diperbolehkannya melakukan “serangan bersenjata” ke negara lain (antara lain pasal 51 mengenai “self-defence” dan BAB VII/pasal 39-43 mengenai “enforcement action” melalui Dewan Keamanan). Customary law, sebagai salah satu sumber hukum internasional yang diakuipun membolehkan penyerangan bersenjata, di antaranya dengan alasan “humanitarian intervention” (intervensi karena alasan kemanusiaan), “reprisals” (serangan balasan kalau diserang terlebih dahulu), “hot pursuit” (pengejaran buronan/musuh yang melewati batas teritori negara) dan “annexation of territory” (penguasaan wilayah oleh negara lain). Dapat kita pahami pula bahwa pengecualian tersebutlah yang selama ini ditafsirkan dan digunakan secara sepihak oleh berbagai negara untuk melegalisasikan serangan bersenjata (perang) ke negara lain.

Membangun Masyarakat Berbudaya Damai

cropped-1483339958626.jpg

Budaya damai dapat dimaknai sebagai pendekatan integral untuk mencegah kekerasan dan konflik berdarah sebagai sebuah upaya menghilangkan budaya kekerasan. Budaya ini didasarkan pada kesadaran dan pemahaman akan keanekaragaman dan perbedaan, pendidikan perdamaian, promosi keberlanjutan pembangunan ekonomi dan sosial, penghargaan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, partisipasi demokrasi, toleransi dan kebebasan arus informasi dan penghentian kegiatan militeristik yang tidak dapat dibenarkan secara hukum dan alasan kemanusiaan apapun.

UNESCO dalam Declaration of a Culture of Peace menyebutkan bahwa budaya damai adalah sikap, tindakan, tradisi, dan model perilaku dan cara hidup yang didasarkan pada:

  • Menghargai kehidupan, mengakhiri kekerasan dan mengedepankan tindakan anti kekerasan melalui pendidikan, dialog, dan kerjasama.
  • Penghargaan penuh terhadap prinsip-prinsip kedaulatan, integrasi wilayah, kemerdekaan politik negara dan ketiadaan intervensi pada persoalan internal sebuah negara yang berhubungan dengan Piagam PBB dan hukum internasional.
  • Penghargaan penuh terhadap dan mengedepankan penghargaan terhadap seluruh hak asasi manusia dan kemerdekaan dasar.
  • Komitmen terhadap penyelesaian konflik secara damai.
  • Upaya untuk menemukan kebutuhan pembangunan dan lingkungan tidak hanya saat ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
  • Menghargai dan mengedepankan hak-hak pembangunan.
  • Menghargai dan mengedepankan kesamaan hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan.
  • Menghargai dan mengedepankan hak-hak setiap orang untuk merdeka berekspresi, berpendapat dan mendapatkan informasi.
  • Mengikuti prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerjasama, penghargaan terhadap kemajemukan, perbedaan budaya, dialog dan pengertian pada setiap tingkatan masyarakat dan bangsa.

Bagi saya, sepertinya sulit untuk menciptakan perdamaian tanpa keadilan. Seandainya perdamaian dapat terwujud tanpa memiliki pondasi keadilan, maka perdamaian itu tidak akan kekal dan bertahan lama. Maka dari itu, tanpa jalinan keadilan, tidak dapat diharapkan perdamaian yang hakiki akan berlangsung.

Mengkaji tentang perdamaian dan budaya damai akan mengingatkan kita pada kompleksitas persoalan konflik yang kian rutin terjadi. Perwujudan kondisi damai dan adil tidak dapat dilepaskan dari pola pikir, mentalitas dan spiritualitas manusia. Ketiga hal tersebut merupakan hal utama dalam mewujudkan masyarakat beragam yang minim konflik, toleran dan pro-perdamaian. Hanya dengan tegaknya keadilan orang boleh berharap bahwa sebuah wajah dunia yang ramah akan menjadi kenyataan.

Kita harus mengedepankan cara-cara persuasif yang saling menguntungkan sebagai konsekuesi dari hidup dalam sebuah masyarakat dialog. Kita tidak lagi hidup dalam zaman yang menempatkan kekerasan sebagai jalan keluar dari perbedaan yang ada tetapi dengan dialog. Jika kekerasan yang menjadi alat penyelesaian masalah, maka konflik akan terus terjadi karena sampai kapanpun kita akan bertemu dengan perbedaan. Dengan demikian, di sebuah masyarakat multikultural, perdamaian adalah budaya. Bukan lagi budaya kekerasan.

Dalam Al Quran dengan jelas disebutkan bahwa Allah tidak menciptakan manusia untuk saling menyakiti, apalagi membunuh. Perbedaan ras, suku, dan bangsa dimaksudkan Allah Swt agar manusia saling mengenal, bukan membenci dan bermusuhan (QS al-Hujurat [49]: 13). Oleh karena itu, umat Islam di mana pun mereka berada harus berusaha mewujudkan perdamaian dan membangun semangat keislaman yang moderat dan progresif, tidak ashobiyah yang hanya mementingkan kelompoknya agar menjadi pionir dalam mengampanyekan kedamaian dan perdamaian.

Pertanyaan besar saya adalah bagaimana kita, bangsa Indonesia, masyarakat Indonesia mampu berperan dan  mampu mewujudkan perdamaian dan menghapuskan ketidakadilan?

Tentunya, jawaban dari pertanyaan ini perlu dirumuskan secara serius karena tidak mudah dan apapun kebaikan yang kita dapat lakukan, maka segera lakukan jangan ditunda-tunda. Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa budaya damai bukan lagi sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan bagi kita, sebab hanya ada dua alternatif, berdamai dan membangun masyarakat dan generasi mendatang yang lebih baik atau berkonflik dan menciptakan masyarakat yang menderita dan generasi mendatang tanpa masa depan.

musik membuat hati damai

musik membuat hati damai